Rabu, 02 Agustus 2017

Berani Berhijrah


Waktu itu saat waktu menjelang maghrib aku bertemu dengan seorang akhwat yang berasal dari Madinah, dia orangnya sangat alim, umurnya 2 tahun lebih tua dariku, setiap hari kami berbicara dan dia selalu mengungkit pembicaraannya mengenai islam, awalnya dia menanyaiku mengapa aku tidak memakai jilbab, lalu aku menjawab bahwa aku tidak siap, lalu dia menjawab “ Ya, baiklah, aku tidak memaksa, islam tidak pernah memaksa kita untuk melakukan sesuatu.” Langsung pada saat itu hatiku mulai terketuk untuk memakai jilbab, belum memakai namun sudah ada niatan, awalnya ibuku sangat mendukungku untuk memakai jilbab walaupun anggota keluargaku yang lain merasa “ aneh ” dengan perubahanku yang drastis dari yang tomboy, omongan tidak pernah dijaga, shalat jarang, dzikir saja tidak pernah, dan kalau baca Al-Quran saja itupun kalau sedang ada majelis di tempat pembelajaranku saat itu, yang namanya suka sama cowok sering, nafsu tidak pernah dijaga.

Tapi pada suatu hari aku akhirnya memakai jilbab dan Alhamdulillah sampai sekarang, namun orang berhijrah pasti banyak sekali cobaannya dan cobaannya dari orang terdekat tentunya, semenjak berjilbab aku mulai melirik dan membaca artikel islami dan tentang muslimah, pada saat itu aku berkeinginan untuk mengingatkan temanku tentang islam, awalnya banyak yang bilang aku menjadi fanatik agama termasuk beberapa anggota keluargaku, saat aku mulai ingin memakai hijab syari saudara perempuanku terkadang melirikku dengan pandangan tidak suka, apalagi saat aku hanya berniat untuk mengingatkan tentang islam anggota keluargaku selalu menjawab dengan marah dan mereka malah mengira bahwa aku mengajari mereka, hal tersebut selalu terjadi terkadang aku mau menangis pada saat itu juga, sedih, marah, campur aduk jadi satu.

Baca juga :

Beberapa anggota keluargaku sampai sekarang masih suka menyindir nyindir tentang hijab syari, “ hijab kayak gitu lebar bgt panjang meningan sekalian pake mukenah dah! ”, sampai suatu saat ibuku bercerita tentang tantenya yang memakai hijab syari saudara perempuanku menjawab “ ya makanya aku tidak suka dengan orang yang fanatik.” Ya, aku terkadang merasa tersindir, memang perasaan kesal selalu ada namu apa boleh buat berhijrah menjadi yang lebih baik banyak cobaannya.

Allah benar benar baik kepada hamba-Nya, ketika aku mulai berhijab teman – temanku berganti dari yang selalu maksiat menjadi orang yang cukup pandai dalam ilmu agama, kami pun selalu mengingatkan satu sama lain, Alhamdulillah, dalam hal fashion memang aku mulai meminimalisir cara berpakaianku namun keluargaku selalu memilihkan baju yang jauh dari syar’i, mereka selalu bilang “ udah ini aja kamu bagus pake yang ini jangan pake baju kayak gitu terus ”.

Terkadang aku bingung harus bagaimana mengahadapi sikap orangtuaku yang selalu berkomentar tidak enak didengar mengenai proses berhijrahku, pernah waktu itu salah satu dari mereka berkata bahwa aku tidak bisa bersosialisasi padahal karena perkataan yang aku keluarkan memang tidak bermanfaat makanya aku diam agar tidak menjadi masalah, dan ketika aku marah memang aku diam dan aku sudah pernah bilang jika aku sedang diam dan mukaku masam jangan pernah mengajakku untuk berbicara namun mungkin mereka lupa dan akhirnya akupun marah dan salah satu dari orangtuaku berkata “ kamu tidak bisa bersosialisasi, kalau Allah membisukan mulutmu baru tau rasa, nanti kamu saya sumpahin! ” Padahal aku awalnya sudah mengingatkan, namun apa boleh buat naluri manusia memang selalu ingin mencari kesalahan dan tidak pernah melihat perbuatan baik seseorang kepadanya.


Sampai sekarang pun keluargaku masih tidak suka dengan proses berhijrahku karena memang dari segi berbicara aku jarang berbicara tidak seperti dulu, karena dulu aku berbicara tidak yang bermanfaat dan banyak hal negatifnya makanya aku banyak diam. Memang berhijrahitu ada prosesnya dan pasti ada cobaannya, sabar adalah kuncinya, karena cobaan itu datang dari orang terdekat maka dari itu tetaplah sabar walaupun situasi selalu membuatmu ingin marah dan sedih karena pada saat itu Allah sedang menguji hamba-Nya dengan cobaan yang pasti bisa Ia sanggupi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar