Waktu itu saat waktu menjelang maghrib aku bertemu dengan seorang akhwat yang berasal dari Madinah, dia
orangnya sangat alim, umurnya 2 tahun lebih tua dariku, setiap hari kami
berbicara dan dia selalu mengungkit pembicaraannya mengenai islam, awalnya dia
menanyaiku mengapa aku tidak memakai jilbab, lalu aku menjawab bahwa aku tidak
siap, lalu dia menjawab “ Ya, baiklah, aku tidak memaksa, islam tidak pernah
memaksa kita untuk melakukan sesuatu.” Langsung pada saat itu hatiku mulai
terketuk untuk memakai jilbab, belum memakai namun sudah ada niatan, awalnya
ibuku sangat mendukungku untuk memakai jilbab walaupun anggota keluargaku yang
lain merasa “ aneh ” dengan perubahanku yang drastis dari yang tomboy, omongan
tidak pernah dijaga, shalat jarang, dzikir saja tidak pernah, dan kalau baca
Al-Quran saja itupun kalau sedang ada majelis di tempat pembelajaranku saat
itu, yang namanya suka sama cowok sering, nafsu tidak pernah dijaga.
Tapi pada suatu hari aku akhirnya
memakai jilbab dan Alhamdulillah sampai sekarang, namun orang berhijrah pasti
banyak sekali cobaannya dan cobaannya dari orang terdekat tentunya, semenjak
berjilbab aku mulai melirik dan membaca artikel islami dan tentang muslimah,
pada saat itu aku berkeinginan untuk mengingatkan temanku tentang islam,
awalnya banyak yang bilang aku menjadi fanatik agama termasuk beberapa anggota
keluargaku, saat aku mulai ingin memakai hijab syari saudara perempuanku
terkadang melirikku dengan pandangan tidak suka, apalagi saat aku hanya berniat
untuk mengingatkan tentang islam anggota keluargaku selalu menjawab dengan
marah dan mereka malah mengira bahwa aku mengajari mereka, hal tersebut selalu
terjadi terkadang aku mau menangis pada saat itu juga, sedih, marah, campur
aduk jadi satu.
Baca juga :
Beberapa anggota keluargaku
sampai sekarang masih suka menyindir nyindir tentang hijab syari, “ hijab kayak
gitu lebar bgt panjang meningan sekalian pake mukenah dah! ”, sampai suatu saat
ibuku bercerita tentang tantenya yang memakai hijab syari saudara perempuanku
menjawab “ ya makanya aku tidak suka dengan orang yang fanatik.” Ya, aku
terkadang merasa tersindir, memang perasaan kesal selalu ada namu apa boleh
buat berhijrah menjadi yang lebih baik banyak cobaannya.
Allah benar benar baik kepada
hamba-Nya, ketika aku mulai berhijab teman – temanku berganti dari yang selalu
maksiat menjadi orang yang cukup pandai dalam ilmu agama, kami pun selalu
mengingatkan satu sama lain, Alhamdulillah, dalam hal fashion memang aku mulai
meminimalisir cara berpakaianku namun keluargaku selalu memilihkan baju yang
jauh dari syar’i, mereka selalu bilang “ udah ini aja kamu bagus pake yang ini
jangan pake baju kayak gitu terus ”.
Terkadang aku bingung harus
bagaimana mengahadapi sikap orangtuaku yang selalu berkomentar tidak enak
didengar mengenai proses berhijrahku, pernah waktu itu salah satu dari mereka
berkata bahwa aku tidak bisa bersosialisasi padahal karena perkataan yang aku
keluarkan memang tidak bermanfaat makanya aku diam agar tidak menjadi masalah,
dan ketika aku marah memang aku diam dan aku sudah pernah bilang jika aku
sedang diam dan mukaku masam jangan pernah mengajakku untuk berbicara namun
mungkin mereka lupa dan akhirnya akupun marah dan salah satu dari orangtuaku
berkata “ kamu tidak bisa bersosialisasi, kalau Allah membisukan mulutmu baru
tau rasa, nanti kamu saya sumpahin! ” Padahal aku awalnya sudah mengingatkan,
namun apa boleh buat naluri manusia memang selalu ingin mencari kesalahan dan
tidak pernah melihat perbuatan baik seseorang kepadanya.
Sampai sekarang pun keluargaku
masih tidak suka dengan proses berhijrahku karena memang dari segi berbicara
aku jarang berbicara tidak seperti dulu, karena dulu aku berbicara tidak yang
bermanfaat dan banyak hal negatifnya makanya aku banyak diam. Memang berhijrahitu ada prosesnya dan pasti ada cobaannya, sabar adalah kuncinya, karena cobaan
itu datang dari orang terdekat maka dari itu tetaplah sabar walaupun situasi
selalu membuatmu ingin marah dan sedih karena pada saat itu Allah sedang
menguji hamba-Nya dengan cobaan yang pasti bisa Ia sanggupi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar